Siap Menjadi Kader, Namun Krisis Semangat Berproses

ditulis oleh Muh. Xavier Syafwan Al-Firdaus P. (Ketua Umum HMI Komisariat Kedokteran Gigi Unhas Periode 1447-1448 H)

Sejak kelahirannya pada 5 Februari 1947, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah menorehkan jejak panjang dalam sejarah bangsa. Organisasi ini tidak hanya dikenal sebagai himpunan mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia, tetapi juga sebagai laboratorium kaderisasi yang melahirkan kader intelektual, pemimpin, dan pejuang bangsa. HMI hadir bukan sekadar wadah berhimpun, melainkan ruang pembentukan kepribadian, kepemimpinan, serta penguatan komitmen pada nilai keislaman dan keindonesiaan.

Namun, realitas kontemporer memperlihatkan tantangan serius. Generasi baru yang tumbuh dalam arus digitalisasi dan modernisasi sering kali lebih akrab dengan budaya instan ketimbang semangat perjuangan yang membutuhkan proses panjang. Fenomena ini menimbulkan sebuah ironi yang relevan untuk direnungkan.

Kita hidup dalam peradaban yang ditandai dengan kecepatan. Informasi, hiburan, hingga popularitas kini dapat diraih dalam hitungan detik. Makanan dapat dipesan hanya dengan sentuhan jari, pengetahuan dapat diakses tanpa perlu membuka buku, dan popularitas bisa dibangun dengan mudah lewat media sosial. Budaya instan seperti ini, disadari atau tidak, telah menyusup ke dalam sendi-sendi organisasi perjuangan seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Konsekuensinya, forum-forum perkaderan yang dulunya dimaknai sebagai ruang pembentukan intelektual dan ideologis, seperti Latihan Kader, budaya diskusi, hingga kajian seringkali dipandang sebatas agenda administratif. Kehadiran dalam forum bukan lagi didorong oleh kerinduan intelektual, melainkan sekadar mengisi presensi kehadiran. Diskusi kehilangan gairah, bacaan intelektual kian ditinggalkan, dan kajian nilai semakin terpinggirkan.

Fenomena ini menciptakan kader yang pasif secara intelektual, pragmatis dalam berorganisasi, dan kosong secara ideologis. Kader-kader semacam ini lebih suka tampil di depan mimbar atau media sosial, namun tidak siap menyusun argumen dalam forum ilmiah. Mereka mengejar pujian bukan pemahaman, mencari posisi bukan kontribusi, mengincar pengaruh bukan pengabdian.

Kaderisasi yang seharusnya menjadi ruh organisasi pun tereduksi menjadi sekadar tiket menuju posisi. Militansi yang dulu menjadi kebanggaan perlahan meredup. Organisasi menjadi ramai secara struktural, tapi sepi secara substansi. Ramai dalam jabatan, tapi hampa dalam visi. Lebih jauh, pola pikir instan ini juga melahirkan kader yang mudah kecewa dan gampang menyerah. Ketika tidak mendapatkan posisi atau eksistensi yang mereka harapkan, mereka memilih menjauh bahkan hengkang dari himpunan.

Jika situasi ini dibiarkan, HMI akan menghadapi krisis regenerasi ideologis. Organisasi akan dipenuhi kader yang aktif secara administratif tetapi pasif secara intelektual, semarak di ruang publik, tetapi kosong dalam ruang pemikiran. Padahal sejarah telah menunjukkan, kader-kader besar HMI yang berperan dalam perjalanan bangsa lahir dari proses panjang, tekun membaca, disiplin berdiskusi, serius mengikuti forum kaderisasi, dan menjadikan himpunan sebagai ruang internalisasi nilai.

Di sinilah refleksi menjadi mendesak. Apakah kita hanya ingin dikenal sebagai kader dalam pengertian struktural, tetapi abai terhadap esensi perjuangan? Apakah kita rela mengorbankan idealisme dan keikhlasan demi ambisi instan yang rapuh? Ataukah kita mau kembali meneguhkan ruh kaderisasi sebagai jalan pembentukan jati diri, bukan sekadar pintu masuk menuju jabatan?

HMI perlu mengembalikan marwah kaderisasi sebagai proses penggemblengan yang menumbuhkan kesabaran, disiplin, dan militansi. Forum perkaderan harus kembali hidup sebagai ruang dialektika intelektual. Diskusi tidak boleh sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan ajang pengasahan nalar. Keikhlasan harus kembali diposisikan sebagai fondasi perjuangan, agar HMI tetap relevan sebagai organisasi pembentuk insan cita.

Sebagaimana pesan yang pernah diungkapkan oleh Nurcholish Madjid: “Dalam HMI, proses adalah pembentukan karakter. Tanpa proses, kader hanya akan jadi nama dalam struktur, bukan jiwa dalam perjuangan.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top