Melawan Stereotip, Meraih Kesetaraan

ditulis oleh Hilyah Karimah Zakir (Sekretaris Umum Kohati Kom KG UH Periode 1447-1448 H/ 2024-2025 M)

Kesetaraan gender bukan hanya persoalan perempuan, melainkan bagian penting dari hak asasi manusia. Tanpa memandang jenis kelamin, setiap orang berhak untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial.

Dalam kenyataannya, perempuan masih sering menghadapi diskriminasi dan kekerasan berbasis gender. Banyak yang tidak mendapatkan ruang yang layak untuk berkontribusi, baik dalam ranah publik maupun privat. Padahal, ketika perempuan diberi kesempatan yang sama, dampaknya dapat terlihat jelas seperti, kualitas hidup meningkat, ekonomi berkembang, dan masyarakat menjadi lebih adil.

Melalui Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW), komunitas internasional menekankan bahwa diskriminasi yang didasarkan pada gender tidak dapat dipisahkan dari pelanggaran hak asasi manusia. Di Indonesia, konstitusi juga menegaskan bahwa seluruh warga negara memiliki kedudukan yang setara di mata hukum. Namun, kenyataannya masih banyak perempuan yang mengalami diskriminasi, kekerasan, hingga pelecehan.

Di lingkungan mahasiswa, isu kesetaraan gender semakin sering muncul. Diskusi-diskusi tentang feminisme, kekerasan seksual, hingga representasi perempuan dalam organisasi kampus menunjukkan bahwa generasi muda mulai menolak budaya patriarki yang membatasi ruang gerak perempuan. Akan tetapi, usaha untuk mewujudkannya tidaklah sederhana. Perempuan yang berani bersuara masih sering mendapat stigma, dianggap “cari perhatian” atau “tidak sesuai kodrat”. Sementara itu, mahasiswa laki-laki yang mendukung isu gender dianggap “kurang maskulin”. Hal-hal semacam ini memperlihatkan betapa kuatnya belenggu stereotip dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang terjadi di kalangan mahasiswa ini sesungguhnya mencerminkan tantangan yang lebih luas di masyarakat.

Kesetaraan gender dan hak asasi manusia berjalan beriringan. Mengabaikan salah satunya berarti melemahkan yang lain. Dunia yang adil hanya bisa terwujud bila perempuan dan laki-laki memperoleh ruang setara untuk tumbuh dan berkontribusi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top