Memaknai Peringatan Hari Ibu

Memaknai Peringatan Hari Ibu

Ditulis oleh Sitti Zahra Zafira (Sekretaris Umum Kohati Periode 1444-1445 H/2022-2023)

Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dalam Kongres Perempuan Indonesia I pada 2225 Desember 1928 di Yogyakarta, Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Sesungguhnya bila melihat Kembali sejarah, organisasi perempuan telah ada sejak tahun 1912. Pejuang-pejuang wanita pada abad ke 19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain secara tidak langsung telah merintis organisasi perempuan melalui gerakan-gerakan perjuangan.

Hal itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia dan memotivasi pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, keterlibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, dan berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya.

Banyak hal besar yang diagendakan, tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan gender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Sedangkan, Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini. Penetapan tanggal ini bertujuan untuk menjaga semangat kebangkitan perempuan Indonesia secara terorganisasi dan bergerak sejajar dengan kaum pria.

Peringatan Hari Ibu di Indonesia saat ini lebih kepada ungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji keibuan para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari. jasa seorang ibu memang begitu besar bagi anak-anaknya, tak heran jika setiap 22 Desember selalu diperingati sebagai Hari Ibu di Indonesia dan Ini merupakan bentuk penghargaan bagi kaum ibu. Peringatan Hari Ibu saat ini dapat dinilai tak lagi tepat jika dikaitkan dengan sejarah. Sesungguhnya Hari Ibu tidak hanya diperingati dengan penghargaan kepada ibu atas kerja domestiknya namun juga dengan mengembalikan semangat para perempuan dan merefleksikan gerakan perempuan terdahulu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top