Revitalisasi Implementasi SDGs 12 dan 13 Melalui Circular Economy dengan Peran Penting Pemuda

Pertumbuhan populasi dunia, meningkatnya kebutuhan energi, dan industrialisasi telah menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap aspek lingkungan dan sosial. Oleh karena itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan kebijakan pembangunan global bernama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs ini memiliki kerangka kebijakan yang terdiri dari 17 sasaran dan 169 target rinci yang wajib diimplementasikan oleh semua negara anggota PBB dan harus tercapai pada tahun 2030. Kebijakan ini bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan di seluruh dunia. (Capah dkk., 2023). Beberapa tujuan SDGs yang berperan dalam mengatasi masalah–masalah tersebut adalah tujuan 12 (Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab) dan 13 (Penanganan perubahan iklim)

Disisi lain, Indonesia ternyata belum mampu merealisasikan tujuan SDGs tersebut dengan optimal. Hal ini dibuktikan dengan data SIPSN Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2022 dengan hasil input dari 310 kab/kota se-Indonesia menyebutkan jumlah timbunan sampah nasional mencapai angka 36,19 juta ton dan dari total sampah tersebut, sebanyak 35,99% (13,03 juta ton) ternyata belum terkelola dengan baik (Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, 2022). Bukti lainnya adalah Indonesia juga tergolong sebagai negara pengguna energi yang boros. Hal ini dilihat dari pengukuran elastisitas energi Indonesia yang berada pada kisaran 1,04–1,35 dalam kurun waktu 1985–2000, sementara negara-negara maju berada pada kisaran 0,55–0,65 pada kurun waktu yang sama (Biantoro & Permana, 2017). Kedua bukti tersebut mencerminkan pola produksi dan konsumsi yang impulsif dan tidak bertanggung jawab.
Selain itu, di Indonesia pun telah terjadi perubahan iklim yang cukup ekstrem. Perubahan iklim ini disebakan oleh emisi gas rumah kaca yang mempengaruhi kemampuan atmosfer untuk menyerap dan memantulkan radiasi matahari. Ketika gas-gas rumah kaca seperti CO2, CH4, CFC, O3, dan N2O terakumulasi di atmosfer, mereka menahan panas dari matahari dan mencegahnya keluar dari atmosfer, sehingga menyebabkan peningkatan suhu global (global warming) (Pratama, 2019). Di bagian timur Indonesia, terjadi kecenderungan peningkatan curah hujan tahunan sekitar 490 hingga 1.400 mm per tahun. Suhu siang dan malam hari juga meningkat 0,5-1,1oC dan 0,6-2,3oC. Sementara itu, di Indonesia bagian barat terdapat kecenderungan penurunan curah hujan tahunan sekitar 135 mm per tahun hingga 860 mm per tahun dan suhu siang dan malam hari meningkat antara 0,2-0,4oC dan 0,2-0,7oC. Selain perubahan pola curah hujan dan suhu, dampak lain dari perubahan iklim adalah makin cepatnya periode El-Nino di Indonesia. Jika dahulu periode El-Nino terjadi setiap 5-6 tahun sekali, kini terjadi 2-3 tahun sekali (Ruminta dkk., 2018). Hal ini pun membuktikan bahwa penangan perubahan iklim di Indonesia belum efektif.
Untuk menekan pola konsumsi dan produksi agar suistanable serta menangani perubahan iklim secara efektif maka diperlukan inovasi-inovasi yang kreatif untuk mewujudkan tujuan SDGs nomor 12 dan 13 ini. Salah satu inovasi yang dapat diimplementasikan adalah model circular economy. circular economy merupakan sistem ekonomi yang dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya melalui daur ulang dengan memanfaatkan limbah menjadi nilai tambah, menciptakan produk yang tahan lama dan dapat diperbaiki, serta meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan tanpa merusak alam (Fadhillah & Fahreza, 2023).
Inovasi untuk menerapkan circular economy melibatkan pengembangan teknologi dan praktik bisnis yang memungkinkan penggunaan ulang bahan, mengurangi limbah, dan memperpanjang umur pakai produk. Disinilah para pemuda Indonesia memainkan peran penting dalam menyukseskan circular economy melalui kreativitas, semangat kewirausahaan, dan kecenderungan untuk mengadopsi teknologi baru. Mereka dapat berperan dalam mengembangkan solusi inovatif, mempromosikan gaya hidup berkelanjutan, dan mempengaruhi perubahan perilaku konsumen.
Sebagai contoh, Belanda telah menjadi salah satu negara yang sukses dalam menerapkan circular economy. Mereka telah mengadopsi program nasional “Circular Economy in the Netherlands by 2050” yang berfokus pada beberapa sektor utama ekonomi, termasuk biomassa dan pangan, konstruksi, plastik, manufaktur, dan barang konsumen. Melalui pendekatan ini, Belanda berusaha untuk mengurangi penggunaan sumber daya alam, meningkatkan keamanan pasokan bahan baku, dan membuat impor sumber daya alam menjadi mandiri (Mazur-Wierzbicka, 2021).
Kesuksesan Belanda dalam menerapkan program ini tidak terlepas dari peran pemuda mereka. Mereka terlibat dalam mengembangkan inovasi teknologi dan model bisnis yang mendukung circular economy, meningkatkan kesadaran akan pentingnya circular economy, serta berkolaborasi dalam berbagai jaringan untuk mempromosikan praktik ekonomi lingkaran (Mazur-Wierzbicka, 2021).
Dengan demikian, para pemuda Indoneisa dapat belajar dari inovasi yang telah dilakukan di luar negeri, seperti di Belanda. Apalagi, Circular economy ini juga merupakan salah satu agenda Rencana Jangka Menengah Panjang Nasional (RJMPN) untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, sehingga menjadi penting untuk segera diimplementasikan (Fasa, 2021). Para pemuda dapat memulai dengan membuat terobosan seperti teknologi daur ulang mutakhir, startup ekonomi hijau, hingga mengadvokasikan kebijakan ramah lingkungan. Melalui kontribusi tersebut bukan tidak mungkin pemuda Indonesia pada akhirnya akan menciptakan alam yang lestari serta kesejahteraan sosial bangsa menuju Indonesia Emas 2045 yang makmur, adil, dan madani.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top