KRISIS HUMANITER: PENGHANCURAN PEMAKAMAN DI GAZA OLEH ISRAEL DAN KONTROVERSI INTERNASIONAL

Serangan darat Israel pada 18 Januari 2024 yang merusak 16 kompleks pemakaman orang Palestina di Gaza dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional.  akibat pembongkaran di kawasan tempat pemakaman tersebut menyebabkan batu nisan hancur, tanah-tanah yang berlobang, dan, dalam beberapa kasus belasan mayat-mayat digali.

Para ahli hukum internasional menyatakan bahwa merusak pemakaman bertentangan dengan Statuta Roma, perjanjian tahun 1998 yang membentuk dan mengatur Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) untuk mengadili kejahatan perang, genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan agresi.

Meskipun awalnya mendukung pembentukan ICC, Israel tidak meratifikasi Statuta Roma. Menurut perjanjian tersebut, pemakaman dianggap sebagai “objek sipil” yang dilindungi oleh hukum internasional, dengan perlindungan khusus yang diberikan, kecuali dalam situasi tertentu.

Pemakaman hanya boleh diserang atau dihancurkan jika digunakan untuk tujuan militer oleh pihak yang bertikai atau dianggap sebagai kebutuhan militer, dengan keuntungan militer yang diperoleh lebih besar daripada kerusakan pada objek sipil.

Klarifikasi dari IDF (Israel Defence Forces)

Seorang juru bicara IDF tidak dapat memberikan penjelasan mengenai penghancuran 16 kuburan tersebut. Namun, dia menyatakan bahwa dalam beberapa situasi, militer tidak memiliki pilihan lain selain menargetkan kuburan yang dinyatakan digunakan oleh Hamas untuk keperluan militer.

IDF menegaskan bahwa penyelamatan sandera dan penemuan serta pengembalian jenazah mereka merupakan salah satu misi utama di Gaza. Oleh karena itu, jenazah dipindahkan dari beberapa kuburan. Mereka juga mengakui bahwa jenazah yang bukan sandera akan dikembalikan dengan martabat dan hormat.

Namun, dalam beberapa kasus, tampaknya militer Israel menggunakan kuburan sebagai pos militer. Analisis dari CNN terhadap citra satelit dan video menunjukkan bahwa buldoser Israel mengubah beberapa kuburan menjadi tempat pementasan, meratakan petak-petak yang luas, dan mendirikan tanggul untuk memperkuat posisi mereka.

Tanggapan Anggota Komisariat

Meskipun kendaraan dan jalan hancur di sekitar kompleks pemakaman, kuburan itu sendiri, yang memuat mayoritas umat Kristen dan beberapa tentara Yahudi dari Perang Dunia I, tetap terjaga dalam keadaan utuh. Terlihat tentara Israel mengambil foto dengan bendera negara mereka di dekat makam seorang tentara Yahudi, dan gambar lain di media sosial menunjukkan tank berada di tepi kuburan sebagai bentuk penghormatan terhadap kekudusan tanah tersebut.

Tindakan merusak secara sengaja situs keagamaan, seperti pemakaman, merupakan pelanggaran hukum internasional, kecuali dalam keadaan darurat terkait dengan situs tersebut yang menjadi sasaran militer. Tindakan Israel dalam konteks ini bisa dianggap sebagai kejahatan perang.

Penting untuk dicatat bahwa penghormatan terhadap beberapa individu yang meninggal, tetapi tidak terhadap yang lain, melanggar norma hukum internasional. Kejadian ini dengan jelas melanggar prinsip-prinsip dasar tersebut dan dapat dianggap sebagai kejahatan perang karena menciderai martabat individu secara pribadi.

Sebagai tanggapan dari anggota komisariat, dapat disampaikan bahwa tindakan Israel ini secara serius menodai prinsip-prinsip hukum internasional yang menegaskan perlunya menghormati situs-situs keagamaan dan martabat individu, terutama dalam situasi konflik. Langkah-langkah semacam itu dapat merugikan citra dan kredibilitas internasional Israel

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top