Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah bergulir di berbagai sekolah di Indonesia. MBG merupakan usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan gizi bagi anak sekolah. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk memberdayakan UMKM dan ekonomi kerakyatan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi. Program pemberian makanan bergizi bagi anak sekolah telah dilaksanakan di sejumlah negara. Bahkan, pada tahun 2022, program ini telah menjangkau hampir 418 juta anak di berbagai penjuru belahan dunia. Pemberian makanan bergizi untuk anak sekolah di Amerika Serikat dikenal dengan National School Lunch Program. Di India, program serupa dikenal dengan The Mid-Day Meal Scheme, sementara di Afrika dikenal dengan Homegrown School Feeding. Berdasarkan studi World Bank pada tahun 2024, pemberian makan bergizi dapat meningkatkan tingkat kehadiran, tingkat partisipasi, serta mengurangi malnutrisi atau stunting. Di beberapa negara maju, studi menunjukkan bahwa pemberian makan bergizi juga dapat mengendalikan pola makan sehingga mengurangi risiko obesitas dan diabetes sejak dini bagi anak usia sekolah. Di negara-negara Afrika, merujuk pada data United Nations World Food Programme pada 2021, program makan bergizi di sana mampu memperluas kesempatan petani lokal, mendorong ekonomi pedesaan/kerakyatan, memperkuat ketahanan pangan, serta mengurangi rantai pasok dan emisi karbon.

Melalui Perpres Nomor 83 Tahun 2024, pemerintah menunjuk Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menjalankan tugas dalam pemenuhan gizi nasional. Selanjutnya, sasaran pemenuhan gizi yang menjadi tugas BGN tersebut diarahkan kepada setidaknya empat kelompok utama. Pertama, peserta didik pada jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah di lingkungan pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan keagamaan, pendidikan khusus, pendidikan layanan khusus, dan pendidikan pesantren. Pada kelompok ini, program menyasar anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, di mana gizi yang cukup sangat penting untuk mendukung proses belajar dan perkembangan kognitif mereka. Kedua, anak usia di bawah lima tahun. Kelompok ini termasuk menjadi sasaran utama program makan bergizi gratis lantaran balita merupakan periode kritis dalam tumbuh kembang anak. Kekurangan gizi pada masa periode pertumbuhan ini dapat menyebabkan dampak yang tidak dapat dipulihkan. Ketiga, ibu hamil. Pemenuhan gizi pada ibu hamil juga sangat penting. Gizi yang baik selama kehamilan memberi perlindungan bagi ibu hamil dan janin sebab dapat mencegah komplikasi kehamilan, kelahiran prematur, serta stunting pada bayi. Keempat, ibu menyusui. Gizi yang cukup pada ibu menyusui penting untuk produksi ASI yang berkualitas dan tumbuh kembang bayi yang optimal. Oleh sebab itu, kelompok ibu menyusui juga penting untuk diperhatikan dan menjadi sasaran program pemenuhan gizi oleh pemerintah.
Makan Bergizi Gratis berjalan mulai 6 Januari 2025. MBG akan dibagikan satu kali sehari kepada anak sekolah dari tingkat PAUD hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Untuk anak PAUD, TK sampai kelas 2 Sekolah Dasar (SD), makanan akan dibagikan pukul 08.00 WIB. Sementara sekitar 09.30 WIB dibagikan untuk anak kelas 3-6 SD. Lalu sekitar pukul 12.00 WIB, makanan akan dibagikan bagi anak SMP hingga SMA. Jadwal pemberian MBG ini dibuat sesuai dengan jadwal belajar mengajar di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia. Sementara itu, menu MBG akan berbeda-beda setiap daerah. Namun, terkait dengan menunya, akan ditentukan oleh ahli gizi di setiap satuan pelayanan di daerah. Menu MBG sendiri tidak ditentukan oleh Badan Gizi, tetapi Badan Gizi menentukan komposisi nutrisi secara nasional. Menunya merupakan tanggung jawab dari ahli gizi di masing-masing satuan pelayanan, dimana terdapat satu ahli gizi di setiap satuan pelayanan. Di awal pelaksanaannya program Makan Bergizi Gratis menjangkau sekitar 3 juta penerima manfaat dan secara bertahap jumlah penerima akan terus meningkat. Tercatat tanggal 29 Oktober 2025 sudah ada 13.514 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 38 provinsi, 509 kabupaten, dan 7.022 kecamatan, dan melayani 39,5 juta penerima manfaat dari MBG.
Disamping telah banyaknya jumlah penerima MBG ini, terdapat permasalahan akibat dari tidak higienisnya makanan yang disajikan yang mengakibatkan anak-anak yang memakan MBG harus dilarikan ke rumah sakit, puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya. Data dari Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap, sebanyak 6.457 orang terdampak keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) per 30 September 2025. BGN membagi 6.457 korban keracunan MBG itu ke dalam tiga wilayah, yakni Wilayah I yang mencakup Pulau Sumatera, Wilayah II di Pulau Jawa, dan Wilayah III mencakup wilayah Indonesia timur. Dari 6.457 korban keracunan MBG, paling banyak terjadi di Wilayah II atau Pulau Jawa, yakni sebanyak 4.147 orang. “Kita lihat di wilayah satu ada yang mengalami gangguan pencernaan sebanyak 1.307, wilayah dua bertambah, tidak lagi 4.147, ditambah dengan yang di Garut mungkin 60 orang,” ujar Kepala BGN Dadan Hindayana dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Rabu (1/10/2025). “Kemudian wilayah III ada 1.003 orang,” sambungnya. Dalam rapat tersebut, Dadan mengakui banyak satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau dapur dalam program MBG belum memiliki sanitasi air yang baik.

Adapun data keracunan MBG dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat total jumlah korban per 19 Oktober 2025 mencapai 13.168 anak. Terdapat lima provinsi dengan korban keracunan MBG terbanyak. Pertama, Jawa Barat dengan 549 korban, disusul oleh Daerah Istimewa Yogyakarta dengan 491 korban. Masih di Pulau Jawa, kemudian Jawa Tengah dengan 270 korban, Selanjutnya Sumatera Utara dengan 99 korban dan Nusa Tenggara Barat 84 korban. Data tersebut berdasarkan laporan yang diterima organisasi masyarakat sipil sehingga tidak menutup kemungkinan jumlah kasus keracunan menu MBG lebih banyak ketimbang dari laporan yang masuk. Presiden RI Prabowo Subianto menyebut kesalahan atau kekurangan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia hanya 0,00017 persen saja. Hal itu disampaikan Prabowo dalam pidatonya dalam penutupan Munas ke-VI PKS di Hotel Sultan, Jakarta, Senin (29/9/2025). Prabowo mengatakan sampai saat ini program MBG telah diterima kurang lebih 30 juta penerima manfaat baik siswa maupun ibu hamil.

Respons Presiden Prabowo Subianto yang mengklaim tingkat keberhasilan program makan bergizi gratis mencapai 99,9 persen. Klaim kepala negara itu didasari persentase jumlah korban keracunan dengan penerima manfaat. klaim ini bukan bukti keberhasilan, melainkan tanda bahaya. Klaim keberhasilan pelaksanaan MBG oleh presiden ini menunjukkan bahwa pemerintah menormalisasikan tata kelola program yang kusut masai. Pemerintah secara tidak langsung telah menunjukkan pengabaian terhadap keselamatan nyawa penerima MBG. Presiden Prabowo tampaknya lupa, di balik angka itu ada ribuan anak yang keracunan dan keselamatannya terancam. Harusnya pemerintah menjalan program MBG setelah ada aturan yang jelas dan seluruh wilayah maupun SPPG telah memenuhi standar keamanan pangan. Mesti kita utamakan keselamatan anak, jangan hanya kejar target dan klaim sukses.
Meski presentase dari angka keracunan MBG dapat dikatakan kecil, tapi tak ada kata kecil jika berbicara tentang nyawa manusia. Jika pemerintah terlalu terburu-buru untuk mencapai kuantitas penerima MBG tanpa dibarengi oleh kualitas makanan yang didistribusikan, hal itu akan membuat penerima manfaat MBG menjadi korban atas program pemerintah yang tak diawasi secara profesional. Tujuan awal dari MBG sangat baik tetapi jika tidak melalui SOP yang ada maka bukannya menyelesaikan masalah terkait malnutrisi atau stunting, yang ada penerima MBG yang dilarikan ke ruang IGD akibat keracunan yang ditimbulkan setelah mengonsumsi MBG. Hukum harus ditegakkan kepada pihak-pihak yang dengan sengaja mengambil keuntungan yang menyebabkan kualitas dari menu MBG yang disajikan ke penerima MBG tidak terjamin. Peraturan yang mengatur terkait hukuman bagi para pelanggar SOP penyediaan MBG perlu dipertegas untuk meminimalkan angka keracunan yang ada.