Perempuan dan Isu Lingkungan

Perempuan dan Isu Lingkungan

Ditulis oleh Annisa Aulya Arriyahhiyah (Ketua Bidang Internal Periode 1444-1445 H/2022-2023)

Ekofeminisme berpandangan lingkungan dan perempuan mempunyai posisi yang sama. Lingkungan dan perempuan adalah kelompok marginal yang tidak mendapat tempat dan kurang menguntungkan. Ekofeminisme adalah sebuah gerakan sosial yang mengarah pada hubungan antara ekologi dan feminism. Asumsi gerakan ini adalah pengelolaan alam seharusnya memperhatikan berbagai aspek seperti lingkungan hidup, demokrasi, hak asasi manusia dan ketimpangan gender. Hukum patriarkhi dan pengelolaan lingkungan adalah variabel yang berdampingan, pengelolaan lingkungan yang tidak melibatkan perempuan hanyalah akan membuat perempuan-perempuan menjadi korban dari kerusakan lingkungan.

Perempuan sering kali menjadi korban langsung dari kerusakan lingkungan. Mereka lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim, kerusakan ekosistem, dan kelangkaan sumber daya alam. Akibatnya, mereka menghadapi tantangan seperti ketersediaan air bersih yang terbatas, kualitas udara yang buruk, dan kekurangan pangan. Perempuan juga sering kali bertanggung jawab atas penyediaan makanan, energi, dan air bagi keluarga mereka, sehingga mereka memiliki pemahaman mendalam tentang pentingnya melestarikan lingkungan untuk keberlanjutan kehidupan sehari-hari.

Perempuan telah berperan dalam konservasi dan pengelolaan sumber daya alam secara tradisional. Mereka terlibat dalam praktik pertanian berkelanjutan, pengelolaan hutan, dan pemeliharaan keanekaragaman hayati. Pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki dalam memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan merupakan aset berharga dalam menjaga kelestarian lingkungan. Mengakui dan memberdayakan perempuan sebagai pemangku kepentingan utama dalam pengambilan keputusan lingkungan dapat menghasilkan kebijakan yang lebih efektif dan solusi yang lebih berkelanjutan.

Pemberdayaan perempuan adalah kunci untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Ketika perempuan diberikan akses yang setara terhadap pendidikan, pelatihan, dan sumber daya ekonomi, mereka dapat berperan aktif dalam melindungi lingkungan dan mempromosikan keberlanjutan. Mendorong partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan, termasuk di bidang lingkungan, juga penting. Hal ini dapat mencakup pendirian kelompok perempuan, pelibatan dalam komite pengelolaan lingkungan, dan partisipasi dalam perencanaan dan implementasi proyek lingkungan.

Perempuan masih menghadapi berbagai tantangan dalam berkontribusi secara efektif dalam isu lingkungan. Tantangan tersebut meliputi ketimpangan gender, akses terbatas terhadap sumber daya, dan kurangnya perwakilan dalam pengambilan keputusan. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan langkah-langkah seperti penghapusan diskriminasi gender, pemberian akses yang setara terhadap sumber daya dan peluang, serta pengembangan program pelatihan dan pendidikan yang memperkuat kapasitas perempuan dalam pengelolaan lingkungan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top