ditulis oleh Muh. Xavier Syafwan Al-Firdaus Putra selaku Ketua Umum HMI Komisariat Kedokteran Gigi Unhas periode 1446-1447 H
Ruang digital hari ini telah menjadi tempat terbukanya banyak pandangan, termasuk kritik terhadap organisasi mahasiswa. Salah satunya adalah video yang menyinggung Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI, dengan pertanyaan yang cukup tajam: mengapa HMI hari ini dianggap kurang menarik, kehilangan daya pikat, atau bahkan dinilai terlalu sibuk dengan urusan angka, massa, senioritas, dan kepentingan politik?
Sebagai kader HMI, saya memandang kritik seperti ini tidak perlu langsung ditanggapi dengan kemarahan. Kritik, selama disampaikan sebagai bentuk kegelisahan terhadap gerakan mahasiswa, justru harus dibaca sebagai alarm. Ia menjadi pengingat bahwa organisasi sebesar HMI tidak boleh hanya hidup dari nama besar, sejarah panjang, dan romantisme masa lalu. HMI harus terus membuktikan bahwa dirinya masih relevan, masih dibutuhkan, dan masih mampu melahirkan kader-kader yang berkualitas bagi umat dan bangsa.
Saya tidak menutup mata bahwa sebagian kritik terhadap HMI lahir dari kenyataan yang pernah dilihat atau dirasakan oleh sebagian orang. Ada yang melihat HMI terlalu dekat dengan politik praktis. Ada yang menilai sebagian kadernya lebih sibuk mengejar posisi daripada memperkuat kualitas diri. Ada pula yang menganggap gerakan HMI terlalu sering tampil dalam bentuk demonstrasi, tetapi kurang kuat dalam gagasan dan kerja-kerja intelektual. Pandangan seperti ini tidak sepenuhnya bisa diabaikan, karena setiap organisasi besar pasti memiliki tantangan internal yang harus terus diperbaiki.
Namun, menilai HMI hanya dari sebagian perilaku kader atau dari potongan realitas tertentu tentu tidak cukup adil. HMI adalah organisasi yang besar, luas, dan memiliki dinamika yang kompleks. Di dalamnya ada berbagai macam kader, karakter, pemikiran, dan proses kaderisasi. Ada yang aktif di ruang demonstrasi, ada yang bergerak di ruang akademik, ada yang mengabdi di masyarakat, ada yang membangun jaringan profesional, dan ada pula yang sedang berproses membentuk diri menjadi pemimpin.
Justru di sinilah letak kekuatan HMI. HMI bukan hanya organisasi yang mengumpulkan mahasiswa dalam satu forum, tetapi ruang kaderisasi yang membentuk cara berpikir, keberanian bersikap, kemampuan berorganisasi, dan kepekaan sosial. Sejak awal, HMI hadir bukan sekadar sebagai organisasi kampus, tetapi sebagai wadah pembentukan insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah SWT.
Kelebihan HMI terletak pada tradisi intelektual dan kaderisasinya. Di HMI, kader tidak hanya diajak untuk hadir dalam kegiatan, tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis, berdiskusi, membaca realitas sosial, memahami persoalan umat, dan mengambil sikap terhadap masalah kebangsaan. Forum-forum perkaderan, diskusi, latihan kepemimpinan, dan dinamika organisasi menjadi ruang belajar yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas formal.
Selain itu, HMI juga memiliki kelebihan dalam membentuk keberanian. Banyak mahasiswa yang awalnya pasif, tidak terbiasa berbicara di depan umum, atau belum memahami isu sosial, kemudian tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, argumentatif, dan mampu memimpin. HMI memberi ruang bagi mahasiswa untuk belajar mengambil keputusan, mengelola konflik, membangun komunikasi, dan bertanggung jawab atas amanah organisasi.
Kritik bahwa HMI hanya sibuk dengan kuantitas atau jumlah kader memang perlu dijawab dengan pembenahan. Jumlah kader penting, tetapi kualitas jauh lebih penting. Organisasi tidak boleh hanya bangga karena banyak anggotanya, tetapi harus lebih bangga ketika kadernya memiliki integritas, kapasitas intelektual, akhlak, dan keberpihakan yang jelas kepada masyarakat. Dalam konteks ini, HMI harus terus memastikan bahwa proses perkaderan tidak hanya menghasilkan anggota, tetapi benar-benar melahirkan kader.
Begitu pula dengan kritik soal senioritas dan kepentingan politik. HMI memang memiliki banyak alumni yang tersebar di berbagai sektor, mulai dari akademisi, birokrasi, politik, hukum, ekonomi, hingga masyarakat sipil. Jaringan alumni ini sebenarnya adalah kekuatan besar apabila digunakan untuk membimbing, membuka ruang pengabdian, dan memperkuat kontribusi kader. Namun, relasi dengan alumni tidak boleh membuat kader kehilangan independensi berpikir. Kader HMI harus tetap berdiri di atas nilai, bukan sekadar mengikuti kepentingan figur atau kelompok tertentu.
HMI harus mampu membedakan antara menghormati senior dan tunduk pada kepentingan senior. Menghormati senior adalah bagian dari adab organisasi. Tetapi menjaga independensi sikap adalah bagian dari tanggung jawab moral kader. Jika HMI ingin tetap dipercaya oleh mahasiswa dan masyarakat, maka kader-kadernya harus berani menjaga jarak kritis dari kepentingan politik yang dapat merusak marwah organisasi.
Kritik terhadap demonstrasi juga perlu dijawab secara proporsional. Demonstrasi bukan sesuatu yang buruk. Dalam sejarah gerakan mahasiswa, demonstrasi adalah salah satu cara menyampaikan aspirasi dan mengoreksi kekuasaan. Namun, demonstrasi harus dibangun di atas kajian, data, etika gerakan, dan tujuan yang jelas. Demonstrasi tanpa gagasan hanya akan menjadi keramaian. Tetapi gagasan tanpa keberanian bersikap juga akan berhenti sebagai wacana. HMI harus mampu menggabungkan keduanya: kekuatan intelektual dan keberanian gerakan.
Di tengah perubahan zaman, HMI juga harus sadar bahwa cara mahasiswa melihat organisasi sudah berubah. Generasi hari ini tidak hanya tertarik pada simbol, sejarah, atau nama besar. Mereka ingin melihat manfaat nyata, ruang tumbuh yang sehat, kultur organisasi yang inklusif, serta kaderisasi yang relevan dengan kebutuhan zaman. Karena itu, HMI perlu terus memperbaiki cara komunikasi, pola kaderisasi, dan budaya organisasinya agar tetap dekat dengan realitas mahasiswa hari ini.
Namun, pembaruan HMI tidak boleh berarti kehilangan jati diri. HMI boleh menyesuaikan cara bergerak, tetapi tidak boleh kehilangan nilai dasarnya. Nilai keislaman, keindonesiaan, keilmuan, independensi, dan pengabdian harus tetap menjadi fondasi. HMI harus modern dalam metode, tetapi tetap kuat dalam prinsip.
Bagi saya, video kritik terhadap HMI seharusnya tidak dilihat sebagai serangan, melainkan sebagai bahan refleksi. Jika ada yang keliru, maka harus diperbaiki. Jika ada citra yang buruk, maka harus dijawab dengan kerja nyata. Jika ada kader yang menyimpang dari nilai perjuangan, maka organisasi harus berani melakukan evaluasi. Tetapi di saat yang sama, kita juga perlu menyampaikan bahwa HMI tidak bisa direduksi hanya menjadi organisasi yang penuh kepentingan, senioritas, atau politik praktis.
HMI tetap memiliki banyak kader yang tulus berproses, serius belajar, aktif mengabdi, dan berusaha menjaga nilai perjuangan. Banyak kader HMI yang bergerak dalam pendidikan, advokasi masyarakat, pengembangan intelektual, kepemimpinan kampus, kegiatan sosial, dan ruang-ruang pengabdian lainnya. Mereka mungkin tidak selalu viral, tetapi kerja-kerja mereka nyata.
Pada akhirnya, HMI harus menjawab kritik bukan hanya dengan klarifikasi, tetapi dengan pembuktian. Pembuktian bahwa HMI masih menjadi ruang pembentukan karakter. Pembuktian bahwa HMI masih melahirkan kader yang berpikir merdeka. Pembuktian bahwa HMI tidak hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.
Sebagai kader, saya percaya bahwa HMI masih memiliki masa depan yang besar, selama ia mau jujur melihat kekurangannya dan berani memperkuat kelebihannya. Kritik tidak boleh membuat HMI rapuh. Sebaliknya, kritik harus membuat HMI semakin matang.
HMI tidak boleh hanya besar karena sejarah. HMI harus besar karena kualitas kadernya hari ini. HMI tidak boleh hanya dikenal karena jumlah massanya. HMI harus dikenal karena gagasan, integritas, dan pengabdiannya. Sebab organisasi yang hidup bukanlah organisasi yang bebas dari kritik, melainkan organisasi yang mampu menjadikan kritik sebagai jalan untuk terus memperbaiki diri.