Penindasan terhadap perempuan bukanlah sekadar kumpulan prasangka individu, melainkan sebuah sistem struktur sosial yang terorganisir. Patriarki sebagai sistem hubungan sosial di mana laki-laki mendominasi, menindas, dan mengeksploitasi perempuan. Melalui enam struktur utama, seperti produksi rumah tangga, kerja upahan, hingga kekerasan negara, ia menunjukkan bahwa ketidakadilan gender meresap ke setiap sendi kehidupan, membuat posisi perempuan sering kali berada di bawah kendali sistemik yang sulit ditembus hanya dengan perubahan perilaku personal.
Selain itu, antara patriarki ranah pribadi dan patriarki ranah publik untuk membedah bagaimana isu keperempuanan bergeser seiring zaman. Patriarki pribadi didasarkan pada strategi pengeluaran perempuan dari ruang publik dan dominasi langsung oleh kepala keluarga di rumah. Sebaliknya, patriarki publik memungkinkan perempuan mengakses ruang kerja dan politik, namun mereka tetap dieksploitasi melalui segregasi pekerjaan dan upah yang rendah. Hal ini menjelaskan mengapa meskipun perempuan masa kini terlihat lebih “bebas”, mereka tetap menghadapi hambatan struktural yang menghalangi kesetaraan penuh di dunia profesional.
Perjuangan perempuan tidak bisa hanya fokus pada satu aspek saja. Karena patriarki bersifat multidimensi, maka upaya pemberdayaan harus menyentuh kebijakan publik, perlindungan terhadap kekerasan, hingga perubahan representasi budaya. Dengan memahami bahwa ketimpangan gender adalah hasil dari struktur yang saling mengunci, masyarakat dapat lebih kritis dalam melihat isu-isu seperti kesenjangan upah atau beban ganda domestik bukan sebagai nasib, melainkan sebagai produk konstruksi sosial yang harus didekonstruksi secara kolektif.