ditulis oleh Rihlah Mugniyah Khairunnisa (Wakil Bendahara Umum Kohati Kom KG UH Periode 1447-1448 H/ 2024-2025 M)
Tanggal 25 November bukan cuma tanggal biasa, tanggal ini diperingati sebagai hari internasional untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan di tahun 2025 ini gemanya semakin kuat: dari Indonesia sampai ke global, semua sepakat bahwa “awareness saja nggak cukup — sekarang waktunya aksi nyata
Kenapa 25 November Penting?
Sejarahnya berangkat dari tragedi: Mirabal bersaudari, aktivis perempuan dari Republik Dominika, dibunuh kejam tahun 1960 karena melawan rezim diktator. Tahun 1981, para aktivis feminis internasional menjadikan 25 November sebagai simbol perlawanan terhadap kekerasan berbasis gender. Hingga akhirnya tahun 2000, PBB resmi menetapkannya sebagai hari peringatan dunia.
2025: Kekerasan Tak Lagi Hanya Fisik — Digital Pun Jadi Medan Baru
Tahun ini, peringatan 25 November menyorot isu baru: kekerasan digital. Media sosial, ruang komentar, bahkan DM bisa jadi arena serangan terhadap perempuan —terutama bagi jurnalis, aktivis, konten kreator, atau siapa pun yang berani bersuara.
Di era serba online, kekerasan terhadap perempuan tak lagi terjadi hanya di jalanan atau dalam rumah — kini berpindah ke layar. Bentuknya beragam: dari komentar seksis, penyebaran foto tanpa izin, doxing, ancaman kekerasan, sampai gaslighting digital yang bikin korban merasa “berlebihan” padahal ia sedang diserang. Para jurnalis perempuan, aktivis, dan perempuan yang aktif bersuara di media sosial sering jadi target utama. Mereka dibanjiri ujaran kebencian hanya karena memberi opini. Yang paling berbahaya, kekerasan digital sering dianggap sepele karena “hanya terjadi di internet”, padahal dampaknya bisa real: trauma, depresi, hilangnya rasa aman, bahkan menghambat karier dan keinginan untuk bersuara di ruang publik. Ini menunjukkan bahwa ruang digital belum otomatis jadi safe space — dan tanpa literasi digital, sistem hukum yang jelas, serta edukasi publik, dunia maya bisa jadi versi baru dari kekerasan yang dulu terjadi secara fisik. Intinya: cyber violence is real violence.
Peringatan 25 November jadi momentum baru, peringatan ini bukan lagi sekadar simbol. Ini adalah kode alarm global: “Don’t just speak up. Show up. Stand with women.”From Fear to Freedom: Cease Cyber Violence
Saat perempuan aman, perempuan bisa berdaya.
Saat perempuan berdaya, masyarakat ikut maju.
Dan itu bukan sekadar mimpi — itu misi.