ditulis oleh Andi Putri Fitria S. (Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan HMI Komisariat Kedokteran Gigi Unhas Periode 1447-1448 H)
Di tengah derasnya arus modernisasi, kondisi perempuan Indonesia masih diwarnai paradoks. Di satu sisi, akses pendidikan dan kesempatan berkarier semakin terbuka. Namun di sisi lain, banyak perempuan yang masih belum benar-benar mengenali potensi dirinya. Mereka sering terbawa arus budaya kultural patriarki yang menempatkan perempuan hanya sebagai pelengkap, bukan penggerak. Akibatnya, meski memiliki kemampuan, banyak perempuan menganggap dirinya tidak cukup layak untuk tampil ke depan. Hal inilah yang membuat mereka sering absen dari keputusan pengambilan strategi ruang-ruang.
Minimnya pengembangan kapasitas diri ikut memperkuat keadaan ini. Budaya patriarki tidak hanya mengurung perempuan secara sosial, tetapi juga membatasi ruang belajar dan bertumbuh. Dalam banyak organisasi, baik politik, birokrasi, maupun komunitas, perempuan jarang diberikan kesempatan pelatihan kepemimpinan yang setara dengan laki-laki. Akibatnya, ketika ada kesempatan, perempuan dianggap kurang kompeten. Labelisasi ini kemudian menjadi lingkaran setan karena jarang diberikan ruang, mereka tidak diberi pelatihan karena memang tidak diberi ruang untuk menjadi pelatihan, yang berdampak pada keraguan akan kapasitas perempuan.
Padahal, pengalaman global menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan pada posisi strategis membawa dampak yang signifikan, seperti kebijakan yang lebih inklusif, perhatian lebih besar pada isu kesejahteraan sosial, hingga peningkatan kualitas tata kelola. Oleh karena itu, kesadaran perempuan akan potensinya harus ditanamkan sejak dini, bersamaan dengan dukungan sistemik dari keluarga, organisasi, dan negara. Membebaskan diri dari belenggu patriarki tidak semata-mata soal melawan budaya, tetapi juga soal menegaskan bahwa kompetensi bukanlah soal gender. Perempuan yang berdaya tidak hanya akan mengubah dirinya sendiri, tetapi juga wajah bangsa.