Ditulis oleh: Aqila Muthiya Athirah (Anggota bidang Pemberdayaan Perempuan HMI KOM KG UH Periode 1446-1447 H)
Dalam era modern yang terus mengalami perkembangan pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kesadaran kritis terhadap berbagai isu sosial yang kompleks menjadi sangat penting, termasuk isu neuroseksisme. Neuroseksisme adalah sebuah bentuk diskriminasi yang muncul dari kesalahan interpretasi dan bias dalam penelitian neurosains terkait perbedaan gender, yang kemudian digunakan untuk memperkuat stereotip dan ketidaksetaraan gender.
Neuroseksisme adalah bentuk bias gender yang muncul dalam ranah neurosains, di mana temuan ilmiah sering kali ditafsirkan atau disampaikan dengan cara yang memperkuat stereotip dan ketidaksetaraan gender. Fenomena ini menimbulkan dampak signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, dunia kerja, hingga hubungan sosial. Dalam konteks ini, pemahaman kritis terhadap neuroseksisme menjadi sangat penting, terutama bagi kader organisasi kemahasiswaan yang memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan keadilan sosial dan kesetaraan, salah satunya adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat KG Universitas Hasanuddin (UH).
Dampak neuroseksisme sangat luas, terutama dalam membentuk sikap dan kebijakan yang dapat menghambat kesetaraan gender. Ketika temuan yang bias ini dijadikan dasar pengambilan keputusan dalam pendidikan, dunia kerja, hingga politik, maka hal itu dapat memperkuat diskriminasi dan ketidakadilan yang selama ini dihadapi perempuan maupun kelompok gender lain. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat, khususnya kalangan akademisi dan mahasiswa, untuk mengembangkan pemahaman kritis terhadap neuroseksisme agar dapat membedakan antara fakta ilmiah yang valid dan interpretasi yang bias.
Pemahaman ini menjadi dasar bagi kader HMI Kom KG UH untuk mengkritisi berbagai narasi stereotip yang kerap memperkuat ketidakadilan gender dalam masyarakat. Lebih jauh, kader didorong untuk mengembangkan sikap kritis dan strategis dalam melawan neuroseksisme melalui advokasi dan edukasi, baik di lingkungan kampus maupun di masyarakat luas. Dengan cara ini, HMI Kom KG UH tidak hanya mencetak kader yang intelektual dan religius, tetapi juga progresif dan peka terhadap isu keadilan gender.
Menghadapi neuroseksisme membutuhkan pendekatan multidisipliner yang menggabungkan ilmu neurosains dengan kajian sosial dan gender, sehingga menghasilkan pemahaman yang holistik dan adil. Edukasi dan diskusi yang terbuka tentang isu ini sangat diperlukan untuk mengikis mitos-mitos gender yang keliru dan membangun masyarakat yang lebih inklusif serta berkeadilan. Melalui penguatan kesadaran tentang neuroseksisme, HMI Kom KG UH berharap dapat membentuk generasi mahasiswa yang mampu berkontribusi dalam menciptakan ruang akademik dan sosial yang inklusif, di mana setiap individu mendapatkan perlakuan adil tanpa terbelenggu oleh stereotip gender yang keliru. Ini sejalan dengan visi HMI sebagai organisasi yang berkomitmen memperjuangkan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan kemajuan bangsa secara menyeluruh.