Membangkitkan Kembali Kejayaan Ipteks Kedokteran Dan Kesehatan Umat Muslim: Gagasan Kreatif Menuju Generasi Emas Muslim 2045

Di dalam sejarah peradaban Islam, Baghdad dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam, baik dalam bidang sains, budaya, maupun sastra. Kemajuan peradaban ini menjadikan Baghdad sebagai kota intelektual. Tidak hanya orang Arab, tetapi juga orang Eropa, Persia, Cina, India, dan Afrika pun juga merasakan kemajuan pengeahuan Islam. Era Kekhalifahan Abbasiyah terkenal dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Pada periode ini banyak bermunculan intelektual Muslim baik di bidang ilmiah maupun keagamaan. Keadaan sosial ekonomi juga berkembang secara stabil pada masa Kekhalifahan Abbasiyah. Hal ini juga berlaku pada bidang kedokteran dan kesehatan.

Sejarah mencatat, pada masa kejayaan peradaban Islam di abad pertengahan, banyak ilmuwan dan filsuf Muslim yang memberikan kontribusi penting dalam kemajuan ilmu pengetahuan, termasuk dalam bidang kedokteran dan kesehatan. Misalnya Ibnu Sina yang menulis karya fenomenal berjudul “Al-Qanun Fi Al- Thibb” (Kanon Kedokteran) yang menjadi rujukan selama berabad-abad hingga abad ke-18. Juga karya Ibnu Nafis yang melakukan deskripsi pertama sistem peredaran darah dalam tubuh manusia. Serta Abul Qasim Az-Zahrawi yang membuat ensiklopedia kedokteran dan ilmu bedah yang sangat rinci untuk masanya.

Ilmu kedokteran dan kesehatan yang saat ini masih terus berkembang dan maju pesat seolah berkiblat pada dunia barat menjadikan banyak umat Islam secara membabi buta menolak untuk menerima ajaran ilmu tersebut hingga melupakan kontribusi ulama-ulama muslim dalam sejarah perkembangannya. Sangat disayangkan bila saat ini, generasi Muslim justru tertinggal dalam hal kemajuan dan inovasi ilmu pengetahuan, termasuk ilmu pengetahuan di bidang kesehatan.

Berdasarkan latar belakang di atas, tantangan yang dihadapi dunia Islam saat ini khususnya di bidang kesehatan dan implikasinya bagi masa depan umat perlu mendapat perhatian serius. Khususnya di Indonesia, diperlukan kerja keras dan cerdas dari putra-putri terbaik bangsa ini untuk membangkitkan kembali kejayaan peradaban Islam melalui keunggulan di bidang kesehatan. Pembahasan kali ini akan membahas terkait masalah yang terjadi di negara – negara muslim dan juga di Indonesia serta upaya dan inovasi yang bertujuan untuk memperkuat generasi muslim Indonesia agar mampu bersaing dan berkontribusi terhadap kemajuan di bidang kesehatan. Sehingga kebangkitan peradaban Islam dapat terwujud pada 2045 mendatang, sejalan dengan visi Indonesia menjadi negara maju dan makmur.

Masalah kesehatan seperti penyakit infeksi seperti demam berdarah, hepatitis C, HIV, malaria, TBC memiliki prevalensi yang cukup tinggi di negara-negara Semenanjung Arab yang merupakan negara mayoritas Muslim. Masalah kesehatan di Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak didunia pun juga memiliki prevalensi yang cukup tinggi seperti Stunting. Bahkan WHO pernah menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Asia pada tahun 2017.

Masalah ini terjadi karena minimnya kemampuan umat Islam dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sebagian besar disebabkan karena masih banyak umat Islam yang beranggapan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak begitu penting karena asumsi dari ajaran agama yang mereka pahami bahwa kehidupan manusia di dunia hanya bersifat sementara, sedangkan kehidupan di akhirat bersifat abadi, sehingga mereka mengutamakan persiapan kematian untuk akhirat dan mengabaikan kehidupan di dunia.

Untuk mengatasi masalah ketertinggalan umat Islam di bidang kesehatan dan ilmu kedokteran serta mengembalikan kejayaan masa lalu. Bisa dimulai sejak dini yaitu menanamkan pemahaman bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, sebagaimana tercantum dalam Al-Quran dan Hadits. Ilmu pengetahuan, termasuk kesehatan, sangat dianjurkan untuk digali dan dikembangkan demi kemaslahatan umat. Kemudian perkenalkan pula kepada umat muslim cerita tentang kontribusi ilmuwan muslim di bidang kesehatan di masa kejayaan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Razi, Ibnu Nafis, dan lainnya. Integrasikan pula muatan pembelajaran sains kesehatan dan teknologi ke dalam kurikulum madrasah dan sekolah Islam secara proporsional disertai praktikum dan studi lapangan ke institusi kesehatan terdekat seperti puskesmas atau rumah sakit. Sehingga sejak kecil ketertarikan pada iptek kesehatan sudah tertanam.

Selain itu upaya kreatif yang mampu kita gagas seperti membentuk konsorsium perguruan tinggi Islam yang unggul dalam bidang kesehatan, sebagai wadah sinergi.

dan kolaborasi strategis antar berbagai pihak. Tujuannya untuk memajukan riset terapan, alih teknologi, serta pengembangan sumber daya melalui program pertukaran sarjana dan akademisi. Misalnya Konsorsium Pengembangan Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Islam (KPIKKI) yang beranggotakan 20 PT Islam top, 10 RS Islam rujukan nasional, serta beberapa institusi riset biomedis. KPIKKI dapat menginisiasi berbagai program kolaboratif seperti temu ilmiah internasional, jurnal biomedis bereputasi, kerja praktik lintas disiplin iptek kesehatan, serta inkubator bisnis hasil inovasi medis. Modal awal konsorsium bisa bersumber dari CSR perusahaan farmasi & rumah sakit Islam. Tentunya dengan tata kelola yang akuntabel dan profesional untuk menjamin keberlanjutan.

Langkah lebih visioner selanjutnya ialah mendirikan Islamic World Class Center for Health Sciences and Technology, sebuah institut riset unggulan yang berfokus pada penelitian terapan dan pengembangan teknologi terdepan di bidang kesehatan. Didanai negara-negara OKI, institut tersebut merekrut akademisi dan ilmuwan Muslim ternama di seluruh dunia. Menyediakan fasilitas laboratorium kelas dunia beserta teknologi mutakhir seperti high-end genome sequencing, AI analyzers hingga quantum simulation system. Melalui lembaga riset unggulan ini diharapkan dapat melahirkan terobosan dan produk iptek kesehatan yang dapat menjawab berbagai tantangan global. Seperti vaksin halal, obat biologi, terapi gen, alat diagnostik, dan solusi digital untuk penyakit yang mewabah di dunia Islam. Sehingga umat Islam tidak lagi hanya menjadi konsumen produk kesehatan Barat dan negara maju, namun juga menjadi kontributor penting bagi kemajuan peradaban dunia seperti pada masa kejayaan Islam di masa lalu.

Generasi Muslim saat ini menghadapi banyak tantangan dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan khususnya di bidang kesehatan dan kedokteran. Ironisnya, kondisi ini sangat bertolak belakang dengan sejarah gemilang kontribusi ilmuwan Muslim di masa kejayaan Islam dahulu. Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam bersatu untuk memajukan kembali ilmu kesehatan melalui berbagai terobosan kreatif dan kolaboratif khususnya dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi strategis seperti bidang kesehatan. Sebagai titik tolak membangun kembali kegemilangan Islam di masa mendatang. Melalui semangat yang besar, etos kerja cerdas dan kreatif, kolaborasi erat, serta kebulatan tekad, insyaAllah kita mampu melahirkan inovasi-inovasi kesehatan kelas dunia. Hingga umat Muslim benar-benar menjadi generasi emas 2045 yang membanggakan untuk kemajuan peradaban Islam modern.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top